Friday, November 30, 2012

Dunia tanpa Islam..

Perjalanan sejarah tidak bermula pada 11 September 2001. Aksi-aksi teror tidak pula baru dikenal saat itu. Istilah terorisme sudah dikenal sejak penghujung abad ke-18 (Pirates and Emperors, Noam Chomsky, 1986). Peristiwa 11 September 2001 di New York itu juga kurang tepat dijadikan sebagai titik awal wujud konfrontasi antara Barat dan Timur. Peristiwa ini menjadi penting dan mewarnai kesadaran publik internasional karena dimanfaatkannya oleh George W. Bush sebagai momentum untuk meletakkan batu pertama kampanye ideologi dan public relations yang ia namakan “War on Terror”.

Dengan kata lain, peristiwa tersebut tiada lain hanyalah kulminasi dari rangkaian peristiwa yang telah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, adalah sesuatu yang ahistoris jika diindikasikan bahwa peristiwa yang merubuhkan gedung kembar WTC itu merupakan satu-satunya pisau analisa dalam membedah hubungan antara Barat dan Timur. Jika seorang berpandangan bahwa sejarah baru bermula pada hari itu, maka ia jelas-jelas mengabaikan sejarah panjang hubungan Barat-Timur yang sudah berlangsung selama beribu-ribu tahun. Konsekuensinya, salah satunya, adalah munculnya persepsi yang menempatkan Islam dan Dunia Islam sebagai penyemai dan sarang teroris.

Sebenarnya, persepsi semacam ini tidaklah berbahaya seandainya tidak berdampak dalam pengambilan kebijakan. Faktanya, ia justru dijadikan oleh George W. Bush sebagai acuan untuk memulai invasi militer di Afganistan (2001) dan Irak (2003). Dalam hal ini, prediksi Samuel Huntington yang tertuang dalam Clash of Civilizations pun menjadi relevan; bahwa musuh ideologi Barat setelah berakhirnya Perang Dingin adalah, di antaranya, Islam. Melalui kampanye yang agresif, dan didukung oleh sekutu-sekutu yang militan, “perang melawan teror” pun menjadi sebuah kampanye global dan kini lebih identik dengan perang melawan Islam dan Dunia Islam.

Jika demikian kenyataannya, pertanyaan menggelitik yang menarik untuk diutarakan adalah, akankah dunia lebih aman dan damai tanpa kehadiran Islam? Atau meminjam ungkapan Graham E. Fuller dalam A World Without Islam, “Without Islam, wouldn’t we be spared many of the current challenges before us?” Artinya, tanpa Islam, akankah kita terlepas dari pelbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini? Jika Islam tidak pernah hadir, jika Muhammad tidak pernah lahir, dan jika Islam tidak menyebar secara masif di Timur Tengah, Asia, dan Afrika, akankah hubungan antara Barat dan Timur Tengah berbeda?

Sebagaimana sejarah tidak bermula pada 11 September 2001, hubungan antara Barat dan Timur Tengah tidak pula baru dimulai saat kedatangan Islam. Sejarah hubungan antara Barat dan Timur membentang panjang jauh sebelum kehadiran Islam. Apakah hubungan Barat-Timur Tengah pra-Islam itu selamanya diwarnai dengan keharmonisan dan perdamaian? Bahkan, apakah hubungan internal antara negara-negara Barat sendiri tidak pernah dinodai dengan konflik-konflik berdarah? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab jika pengamat dan analis hubungan internasional mau menelaah sejarah secara jujur dan objektif. Perang Yunani-Persia, Perang Dunia I dan II adalah di antara jawabannya.

Tidak bisa dipungkiri, Islam telah turut serta dalam mewarnai dan memengaruhi berbagai konflik yang pernah dan masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, pernahkah dalam sejarah konflik, Islam merupakan satu-satunya faktor pencetus dan penentu? Dalam kaitan ini, sebagian pakar dan pengamat cenderung mengabaikan faktor-faktor penyebab (causative factors) lainnya seperti faktor kepentingan geo-politik, ekonomi, dan teritorial. Belum lagi dampak kolonialisme dan imperialisme yang telah mencengkeram kebanyakan negara-negara Timur. Akibatnya, Dunia Islam pun semakin tercitrakan sebagai satu-satunya penjahat kemanusiaan yang mesti diperangi bersama-sama.

Di sini, saya tidak sedang berspekulasi dan menebar provokasi. Mari kita bersama-sama menyegarkan kesadaran kita tentang kosakata yang paling sering terdengar setiap kali isu terorisme dan konfrontasi Barat-Timur dibahas; yang paling sering terdengar adalah kata-kata seperti jihad, Islam radikal, Islam fundamental, mujahidin, Taliban, al-Qaedah, Jemaah Islamiyah, Afganistan dan Irak, Hamas, Syariah Islam, dan lainnya yang, mau tidak mau, semuanya terasosiasikan dengan Islam dan Dunia Islam. Melalui gempuran pemberitaan dan kampanye propaganda yang tidak pernah surut, Islam pun berhasil ditampilkan di atas pentas internasional sebagai pengacau peradaban.

Dalam kaitan ini, membaca ulang sejarah hubungan, persisnya konfrontasi, antara Barat dan Timur, menjadi sangat relevan, bahkan mendesak. Jika tidak, setiap analisa mengenai hubungan Barat-Timur akan terperangkap dalam mindset 11 September dan perang melawan teror; mindset yang sepenuhnya bernaung di bawah teori Benturan Peradaban yang dicetuskan Samuel Huntington pada 1992. Yang intinya menekankan bahwa identitas kultural dan keagamaan akan menjadi penyebab utama terjadinya konflik setelah berakhirnya Perang Dingin. Kurang lebih kerangka teoretis inilah yang melandasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama pada masa pemerintahan George W. Bush.

Namun demikian, menuding Barat, khususnya Amerika Serikat, sebagai pemicu tunggal munculnya terorisme juga sama sekali tidak bijak. Sama halnya melimpahkan seluruh sampah terorisme di atas pundak Dunia Islam juga merupakan over-simplikasi yang menyesatkan. Dalam sejarah, evolusi hubungan Barat-Timur dipengaruhi oleh banyak faktor yang memang tidak jarang berujung konfrontasi. Tetapi, faktor-faktor ini seringkali tidak memiliki kaitan dengan Islam. Bahkan, faktor-faktor kepentingan geo-politik, ekonomi, perebutan kekuasaan, sengketa wilayah antara penguasa-penguasa regional, konflik etnis, nasionalisme dan seterusnya, lebih sering menjadi faktor penentu permusuhan dan konfrontasi Barat-Timur.

___________________
__________________